Saya sering merenung. Mengapa kita begitu cinta dengan uang tunai? Mengapa kita begitu senang melihat tumpukan kertas berwarna merah atau biru di dalam brankas kantor? Padahal, uang tunai itu berat. Bau. Dan yang paling berbahaya: ia mudah “selip”.

Sekarang zamannya sudah berubah. Dunia sudah lari kencang. Kita tidak bisa lagi berjalan santai dengan gaya lama. Implementasi transaksi non-tunai di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bukan lagi sekadar pilihan. Itu sudah menjadi keharusan. Bahkan, bagi saya, itu adalah soal harga diri birokrasi kita.

Membuang Kebiasaan Pegang Uang Panas

Dulu, bendahara pengeluaran itu seperti selebriti. Semua orang mencari. Semua orang mendekat. Karena di tangannya ada uang tunai. Ada “uang lelah”, ada “uang saku”, ada macam-macam istilahnya.

Tapi lihatlah risikonya. Uang tunai itu menciptakan godaan yang luar biasa. Syaitan itu pintar. Ia masuk lewat celah-celah kuitansi yang belum ditandatangani. Ia masuk lewat selisih pengembalian yang dianggap “receh”.

Dengan transaksi non-tunai, syaitan-syaitan administratif itu kehilangan panggung. Semua pindah ke jalur digital. Dari rekening kas daerah, langsung ke rekening penerima. Langsung ke rekening vendor. Langsung ke rekening pegawai yang berhak.

Tidak ada lagi mampir-mampir di kantong tengah. Tidak ada lagi istilah “potongan administrasi” yang tidak jelas rimbanya. Inilah cara paling ampuh untuk menjaga integritas para aparatur kita. Kita sedang menyelamatkan mereka dari potensi urusan dengan penegak hukum di masa depan.

Filosofi Jejak Digital yang Kejam

Uang tunai itu bisu. Ia tidak bisa bicara siapa yang memegangnya lima menit yang lalu. Tapi digital? Digital itu cerewet. Ia mencatat semuanya. Detik, menit, jumlah, hingga siapa yang menekan tombol “kirim”.

Inilah yang saya sebut sebagai “jejak digital yang kejam”. Kejam bagi mereka yang berniat curang, tapi sangat ramah bagi mereka yang jujur.

Kalau semua OPD sudah pakai non-tunai, inspektorat tidak perlu lagi pusing tujuh keliling melakukan audit fisik. Tidak perlu lagi menghitung lembaran uang di dalam brankas sampai larut malam. Cukup buka sistem. Klik. Semua data muncul. Real-time.

Transparansi itu bukan cuma soal spanduk di depan kantor. Transparansi itu soal aliran uang yang bisa ditelusuri siapa saja yang punya kewenangan. Kalau alirannya jelas, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh. Begitulah logikanya. Sederhana, tapi berat di praktik.

Melawan Mitos “Ribet” di Lapangan

Saya sering mendengar keluhan. “Pak, non-tunai itu ribet. Kasihan pengusaha kecil yang tidak punya rekening.” Atau, “Pak, sinyal di daerah kita susah, bagaimana mau transfer?”

Saya pikir, itu hanya alasan. Itu hanya mitos yang diciptakan oleh mereka yang nyaman dengan kegelapan uang tunai.

Sekarang, penjual bakso di pinggir jalan saja sudah pakai QRIS. Petani di desa sudah punya ponsel pintar. Bank-bank daerah kita sudah sampai ke pelosok. Jadi, alasan “ribet” itu sebenarnya adalah kode untuk “saya malas berubah”.

Perubahan itu memang sakit di awal. Seperti memakai sepatu baru. Kaki mungkin lecet sedikit. Tapi setelah terbiasa, kita bisa lari lebih kencang. Kita tidak mungkin mau selamanya pakai sandal jepit di tengah lintasan balap, bukan?

Pimpinan daerah harus tegas. Kalau tidak mau pakai non-tunai, jangan dikasih anggaran. Begitu saja. Ketegasan adalah kunci utama transformasi digital. Tanpa paksaan yang terukur, kita akan terus berkutat di zona nyaman yang semu.

Kecepatan adalah Mata Uang Baru

Dalam birokrasi, waktu sering kali terbuang hanya untuk urusan tanda tangan kuitansi dan antre di loket bank. Berapa jam kerja yang hilang hanya untuk mengurus fisik uang?

Dengan transaksi non-tunai, kecepatan menjadi nyata. Proses pencairan dana yang biasanya butuh waktu berhari-hari, kini bisa selesai dalam hitungan menit. Vendor senang karena dibayar cepat. Pegawai senang karena honor masuk tepat waktu.

Ekonomi daerah pun berputar lebih kencang. Uang tidak lagi mengendap lama di brankas-brankas kantor yang pengap. Uang langsung masuk ke sistem perbankan, diputar kembali untuk kredit rakyat, dan menjadi mesin penggerak ekonomi yang luar biasa.

Inilah esensi dari modernisasi birokrasi. Kita bukan hanya mengubah cara membayar, tapi kita sedang mengubah budaya kerja. Dari budaya “nanti-nanti” menjadi budaya “saat ini juga”.

Menuju Pemerintahan yang Berkelas

Implementasi non-tunai di seluruh OPD adalah langkah awal menuju pemerintahan yang berkelas dunia. Kita sedang membangun fondasi bagi Smart City, bagi Electronic Government yang sesungguhnya.

Jangan sampai kita bicara kecerdasan buatan (AI) atau Big Data, tapi bayar sewa tenda saja masih pakai amplop cokelat. Itu namanya kontradiksi. Itu namanya gaya selangit tapi kaki masih di lumpur.

Begitulah. Transaksi non-tunai adalah jalan lurus menuju tata kelola yang bersih. Memang butuh keberanian. Memang butuh investasi infrastruktur. Tapi hasilnya adalah ketenangan batin bagi para pengelola keuangan.

Saya membayangkan suatu hari nanti, semua laporan keuangan OPD selesai hanya dengan sekali klik di akhir tahun. Tidak ada lagi drama kekurangan saldo atau uang yang hilang misterius.

Rasanya, masa depan itu sudah di depan mata. Tinggal kita, mau melangkah maju atau tetap memeluk tumpukan uang tunai yang semakin lama semakin kehilangan maknanya itu.

Begitulah seharusnya. Mari kita laksanakan. Tanpa tapi. Tanpa nanti.