Fenomena “kerja seadanya” di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan hal baru dan bukan pula sesuatu yang jarang dibicarakan masyarakat. Istilah ini merujuk pada sikap bekerja sekadar memenuhi kewajiban minimal—datang, absen, mengerjakan sedikit tugas, lalu pulang—tanpa upaya lebih untuk memberikan pelayanan terbaik atau menciptakan hasil kerja yang berkualitas.

Tentu tidak semua ASN begitu. Banyak ASN yang bekerja dengan dedikasi tinggi, penuh integritas, bahkan bekerja melebihi jam kantor demi melayani masyarakat. Namun, fenomena “kerja seadanya” tetap nyata dan dirasakan publik karena berdampak langsung pada kualitas layanan pemerintah.

Tulisan ini mencoba menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksud “kerja seadanya”, mengapa ia bisa terjadi, bagaimana dampaknya, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubah budaya tersebut. Dengan bahasa sederhana dan alur naratif, pembahasan ini diharapkan memberi gambaran realistis tentang dinamika di balik perilaku kerja ASN yang sering menjadi sorotan publik.

Apa Itu “Kerja Seadanya” dalam Dunia ASN?

“Kerja seadanya” adalah pola kerja yang sekadar memenuhi standar minimum. Tidak ada semangat untuk memperbaiki proses, tidak ada inisiatif tambahan, dan tidak ada dorongan untuk melayani publik secara optimal. Dalam dunia ASN, fenomena ini terlihat dalam berbagai bentuk:

  • Bekerja hanya saat diawasi atasan.
  • Menunda-nunda tugas sampai mendekati tenggat waktu.
  • Menghindari pekerjaan yang dianggap terlalu rumit.
  • Menganggap pekerjaan sebagai rutinitas, bukan bentuk pengabdian.
  • Tidak memiliki rasa urgensi terhadap kebutuhan masyarakat.

Fenomena ini bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah budaya organisasi. Ketika banyak orang bekerja seadanya, pola itu menjadi normal, seusai standar instansi, bahkan bisa jadi dianggap “sudah sewajarnya begitu”.

Akar Masalah: Mengapa Fenomena Ini Muncul?

Fenomena kerja seadanya tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari berbagai faktor struktural, budaya, psikologis, dan manajerial. Berikut beberapa penyebab paling umum.

Tidak Ada Sistem Penghargaan dan Sanksi yang Jelas

Banyak instansi pemerintahan tidak memiliki sistem penghargaan yang benar-benar memberi apresiasi kepada ASN berprestasi. Pegawai yang bekerja keras dan pegawai yang bekerja seadanya sering menerima konsekuensi yang sama:

  • gaji sama,
  • tunjangan sama,
  • penilaian kinerja yang mirip,
  • peluang promosi yang mendekati serupa.

Akibatnya, sebagian ASN tidak melihat manfaat bekerja lebih baik daripada standar minimum. Motivasi untuk memberikan hasil terbaik pun menurun. Tanpa insentif yang kuat, “kerja seadanya” menjadi pilihan aman.

Budaya Organisasi yang Tidak Mendorong Produktivitas

Dalam beberapa instansi, budaya kerja tidak mendorong inovasi atau kecepatan. Banyak pegawai senior terbiasa bekerja dengan ritme lambat dan tidak merasa perlu berubah. Pegawai muda yang mau bekerja lebih baik sering terbentur budaya lama.

Contohnya:

  • Pegawai baru yang rajin dianggap “terlalu idealis”.
  • Mereka yang ingin memperbaiki proses dianggap “memperumit keadaan”.
  • Atasan enggan mengubah rutinitas yang sudah lama ada.

Ketika budaya organisasi tidak mendukung kinerja tinggi, pegawai cenderung menyesuaikan diri dengan ritme kantor yang santai. Inilah yang membuat “kerja seadanya” diwariskan dari generasi ke generasi ASN.

Kurang Jelasnya Tugas dan Target

Banyak ASN tidak memiliki target kerja yang spesifik, terukur, dan jelas. Deskripsi pekerjaan (jobdesk) sering terlalu umum, sehingga hasil kerja sulit diukur. Ketika tidak ada target kinerja yang terstruktur, pegawai merasa cukup bekerja seadanya.

Target yang tidak jelas menimbulkan beberapa masalah:

  • Pegawai hanya menunggu perintah tanpa inisiatif.
  • Tugas tidak diselesaikan tepat waktu karena tidak ada urgensi.
  • Kinerja sulit dievaluasi, sehingga pegawai tidak tahu apakah mereka bekerja dengan baik atau tidak.

Dalam situasi seperti ini, bekerja sekadarnya terlihat aman dan tidak berisiko.

Kurangnya Pelatihan yang Relevan

Tidak sedikit ASN ditempatkan pada posisi yang tidak sesuai latar belakang pendidikan atau kompetensinya. Tanpa pelatihan yang memadai, mereka kesulitan mengerjakan tugas secara optimal. Akhirnya mereka memilih cara yang paling mudah—bekerja seadanya.

Contohnya:

  • ASN ditugaskan mengoperasikan aplikasi digital yang rumit tanpa pelatihan.
  • ASN diminta membuat laporan analisis padahal tidak pernah belajar teknik analisis.
  • ASN menangani layanan publik tetapi tidak dilatih untuk melayani dengan empati.

Ketika pegawai tidak merasa percaya diri dengan kompetensinya, mereka akan menghindari pekerjaan yang menantang.

Minimnya Pengawasan dan Evaluasi Kinerja

Jika pengawasan lemah, pegawai cenderung bekerja secukupnya saja. Tanpa supervisi yang jelas, tanpa pemantauan hasil kerja, dan tanpa evaluasi berkala, sulit mendorong pegawai untuk bekerja lebih dari standar minimum.

Pengawasan yang lemah biasanya terlihat dari:

  • atasan jarang memberi feedback,
  • hasil kerja tidak pernah ditinjau secara rinci,
  • keterlambatan kerja tidak menghasilkan konsekuensi,
  • tidak ada standar waktu layanan yang dipantau harian.

Ketika tidak ada pengawasan, tidak ada motivasi untuk meningkatkan kualitas.

Faktor Psikologis: Rasa Jenuh dan Tidak Ada Tantangan

Sebagian ASN mengalami kebosanan karena pekerjaan yang monoton setiap hari. Rutinitas yang terus berulang membuat mereka merasa tidak berkembang. Perasaan seperti ini lama-lama membuat pegawai kehilangan gairah.

Selain itu:

  • penugasan yang tidak beragam,
  • minimnya kesempatan belajar,
  • tidak ada tantangan baru,

semuanya membuat pegawai merasa cukup untuk bekerja seadanya.

Fenomena ini adalah fenomena psikologis yang wajar terjadi ketika seseorang merasa tidak punya ruang tumbuh.

Fasilitas Kerja yang Kurang Mendukung

Di beberapa kantor, fasilitas kerja sangat terbatas:

  • komputer lambat,
  • printer rusak,
  • koneksi internet buruk,
  • ruang kerja sesak,
  • peralatan tidak memadai,

Hal-hal teknis seperti ini membuat pekerjaan tidak berjalan lancar. Pegawai akhirnya terbiasa bekerja pelan karena diperlambat oleh fasilitas. Jika dibiarkan, ritme lambat ini menjadi budaya tetap.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Fenomena “kerja seadanya” bukan sekadar masalah internal ASN. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat setiap hari. Di antaranya:

Pelayanan Publik Menjadi Lambat

Ketika pegawai bekerja seadanya, kecepatan layanan pasti terkena imbas. Masyarakat harus menunggu lama untuk urusan yang seharusnya bisa selesai cepat. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah.

Kualitas Layanan Menurun

Layanan yang diberikan tidak maksimal:

  • hasil dokumen sering salah,
  • proses administrasi berbelit,
  • keluhan masyarakat tidak ditangani dengan baik,
  • informasi disampaikan tidak jelas.

Kualitas rendah ini menyebabkan masyarakat merasa kesal, tidak dihargai, atau bahkan dirugikan.

Munculnya Persepsi Negatif Terhadap ASN Secara Umum

Masyarakat cenderung menilai seluruh ASN malas bekerja hanya karena bertemu beberapa pegawai yang bekerja seadanya. Padahal kenyataannya banyak ASN yang profesional. Namun citra buruk terlanjur melekat akibat segelintir perilaku negatif.

Kinerja Kebijakan Pemerintah Terganggu

Ketika sebagian ASN bekerja seadanya, pelaksanaan program pemerintah menjadi tidak efektif. Target tidak tercapai, laporan tidak akurat, dan implementasi kebijakan menjadi lambat. Pada akhirnya, visi besar pemerintah pun terhambat.

Bagaimana Mengatasi Fenomena Kerja Seadanya?

Fenomena ini bisa diatasi jika dilakukan perubahan di tiga level: individu, organisasi, dan sistem.

1. Perubahan Mindset Pegawai

ASN perlu menanamkan pola pikir bahwa pekerjaan mereka adalah bentuk pelayanan, bukan sekadar rutinitas. Mindset ini dapat dibangun melalui:

  • pelatihan motivasi dan pelayanan publik,
  • pembinaan dari pimpinan,
  • penanaman nilai integritas,
  • penghargaan bagi yang memberikan pelayanan terbaik.

Perubahan mindset adalah dasar agar pegawai terdorong bekerja lebih dari sekadar “seadanya”.

2. Penguatan Sistem Penghargaan dan Sanksi

Instansi harus punya mekanisme yang jelas:

  • siapa yang bekerja baik harus dihargai,
  • siapa yang bekerja seadanya harus dibina,
  • siapa yang melakukan pelanggaran harus diberi sanksi.

Sistem reward and punishment yang adil akan mengurangi motivasi bekerja seadanya.

3. Penyederhanaan Proses dan SOP

Prosedur kerja perlu dievaluasi secara rutin. Proses yang terlalu panjang membuat pegawai malas berinovasi. SOP yang jelas, ringkas, dan operasional membuat pekerjaan lebih mudah dan menyenangkan.

4. Pelatihan Berkelanjutan

Pelatihan harus relevan, bukan sekadar formalitas. ASN perlu dibekali keterampilan:

  • penggunaan teknologi,
  • komunikasi pelayanan,
  • manajemen waktu,
  • analisis data,
  • penyelesaian masalah.

Pegawai yang kompeten lebih percaya diri sehingga tidak bekerja seadanya.

5. Peningkatan Fasilitas Kerja

Pegawai tidak akan bisa produktif jika alatnya rusak atau jaringan internet sering mati. Pemerintah harus memastikan penyediaan fasilitas kerja yang layak agar pegawai bisa bekerja optimal.

6. Kepemimpinan yang Memberi Teladan

Atasan memegang peran penting. Jika pimpinan:

  • telat datang,
  • tidak memberikan arah yang jelas,
  • tidak peduli kualitas kerja,

maka bawahan akan bekerja seadanya. Sebaliknya, pimpinan yang menjadi teladan akan menular pada tim.

Budaya Kerja Harus Berubah

Fenomena “kerja seadanya” dalam dunia ASN bukan masalah individu semata, tetapi masalah budaya, sistem, dan kepemimpinan. Perubahan tidak bisa instan, tetapi perlahan mulai terlihat jika ada komitmen dari semua pihak.

ASN yang bekerja sepenuh hati adalah harapan masyarakat. Pelayanan publik yang cepat dan profesional hanya mungkin terwujud jika setiap ASN menyadari perannya sebagai pelayan negara, bukan sekadar pegawai kantoran.

Indonesia membutuhkan birokrasi yang tangguh, tanggap, dan mau berubah. Dan perubahan itu dimulai dari hal yang sederhana: bekerja tidak lagi “seadanya”, tetapi bekerja dengan sepenuh kemampuan untuk memberikan manfaat bagi publik.