Banyak orang alergi melihat angka. Apalagi kalau angkanya berderet panjang. Ada nol-nya sembilan. Ada yang dua belas. Pusing. Belum lagi istilah-istilahnya. Ada SILPA. Ada Belanja Modal. Ada Pendapatan Asli Daerah. Rasanya seperti membaca mantra dukun.
Padahal, laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) itu adalah “kitab suci” transparansi. Di sanalah wajah asli daerah Anda terpampang. Apakah daerah Anda sedang sehat? Atau sedang sesak napas? Jangan mau dibohongi oleh pidato-pidato manis di podium. Baca saja laporannya.
Begini cara membacanya bagi pemula. Pakai logika orang pasar saja. Tidak perlu jadi akuntan.
1. Intip Dulu “Surat Sakti” dari BPK
Sebelum masuk ke tabel-tabel angka, carilah satu lembar kertas paling depan. Namanya: Opini BPK. Ini adalah rapor dari auditor negara.
Ada empat jenis opini. Yang paling sakti namanya WTP (Wajar Tanpa Pengecualian). Artinya, secara umum, pencatatan uangnya sudah benar. Tidak ada yang “ajaib”. Tapi ingat, WTP bukan berarti tidak ada korupsi. WTP itu artinya administrasinya rapi.
Kalau opininya WDP (Wajar Dengan Pengecualian), berarti ada yang “nyangkut”. Ada catatan yang auditor saja tidak yakin itu angka dari mana. Kalau “Disclaimer” atau “Tidak Memberikan Pendapat”? Nah, itu lampu merah. Artinya pembukuannya kacau balau sampai auditor angkat tangan. Jangan-jangan bendaharanya lupa mencatat uang keluar untuk apa saja.
2. LRA: Dompet Kita versus Belanja Kita
Setelah lihat opini, masuklah ke Laporan Realisasi Anggaran (LRA). Ini adalah bagian paling asyik. Bayangkan ini seperti catatan uang masuk dan uang keluar di rumah tangga Anda.
Lihat kolom Pendapatan. Berapa banyak uang yang didapat dari keringat sendiri (PAD)? Kalau PAD-nya kecil, tapi uang dari pusat (Dana Transfer) besar, berarti daerah Anda itu “anak mami”. Masih bergantung penuh pada kiriman orang tua di Jakarta. Daerah yang mandiri itu yang PAD-nya kuat.
Lalu lihat Belanja. Cek berapa besar “Belanja Pegawai”. Kalau uang daerah habis hanya untuk bayar gaji dan tunjangan PNS, lalu apa yang tersisa untuk rakyat? Apa yang tersisa untuk perbaiki jalan yang lubangnya seperti kolam lele? Daerah yang sehat itu yang belanja modalnya—untuk infrastruktur dan fasilitas publik—porsinya besar. Bukan habis untuk rapat di hotel terus.
3. Mencari Si Misterius Bernama SILPA
Di bagian bawah LRA, Anda akan menemukan istilah SILPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran). Ini adalah sisa uang yang tidak terpakai sampai akhir tahun.
Banyak orang bangga kalau SILPA-nya besar. “Wah, kita hemat!” katanya. Saya pikir itu keliru. Pemerintah itu bukan perusahaan yang cari untung. Tugas pemerintah adalah menghabiskan anggaran untuk rakyat sesuai rencana.
Kalau SILPA terlalu besar, artinya pemerintah daerahnya tidak becus bekerja. Uang ada, tapi proyek tidak jalan. Rakyat butuh jembatan, uangnya malah “tidur” di bank. Itu namanya kedunguan administratif. Uang itu harusnya berputar jadi aspal, jadi obat-obatan, jadi buku sekolah. Bukan jadi tumpukan angka di saldo akhir tahun.
4. Neraca: Kekayaan yang Tersembunyi
Terakhir, lihatlah Neraca. Ini untuk melihat apa yang dimiliki daerah Anda. Berapa nilai gedung sekolahnya? Berapa nilai jalannya?
Hati-hati melihat kolom “Aset Tetap”. Kadang nilainya triliunan, tapi banyak tanah daerah yang diserobot orang atau surat-suratnya hilang. Di sinilah kejujuran pemerintah diuji. Apakah mereka benar-benar menjaga harta rakyat, atau hanya membiarkannya terbengkalai?
Begitulah. Membaca laporan keuangan itu sebenarnya soal melatih kepedulian. Kita adalah pemilik saham daerah ini. Pajak yang kita bayar itu modalnya. Laporan keuangan itu pertanggungjawabannya.
Jangan cuma bisa mengeluh jalan rusak. Buka laporannya. Lihat anggarannya dikemanakan. Kalau Anda sudah mulai berani membaca angka, para pejabat pun tidak akan berani main-main. Mereka tahu, rakyatnya sudah pintar. Rakyatnya sudah bisa “mengintip” isi dompet daerahnya sendiri.
Begitulah seharusnya. Rasanya lebih enak begitu, kan? Mari kita mulai membaca. Satu angka setiap hari. Agar kita tidak terus-terusan jadi penonton di daerah sendiri.


