Menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) itu ibarat kita sedang melukis wajah desa untuk enam tahun ke depan. Kalau pelukisnya terlalu berkhayal, hasilnya mungkin indah tapi tidak mirip dengan aslinya. Sebaliknya, kalau pelukisnya terlalu kaku dan tidak punya imajinasi, hasilnya akan membosankan dan tidak memberikan inspirasi apa-apa. Di banyak desa, RPJMDes sering kali hanya menjadi dokumen “copy-paste” dari periode sebelumnya atau sekadar formalitas syarat pencairan Dana Desa. Isinya hanya tumpukan daftar keinginan—bukan daftar kebutuhan—yang ujung-ujungnya sulit dilaksanakan karena terbentur anggaran atau aturan.

Saya sering melihat Kepala Desa yang baru dilantik terjebak dalam euforia janji kampanye. Semangatnya luar biasa: ingin bangun jalan aspal semua, ingin bangun gedung olahraga megah, sampai ingin bikin desa wisata kelas dunia. Itu bagus, itu visioner. Tapi begitu duduk bersama pendamping desa dan melihat plafon anggaran, baru sadar kalau uangnya tidak cukup untuk itu semua. Akhirnya, RPJMDes jadi dokumen pajangan yang penuh dengan program “mati suri”. Menyusun RPJMDes di tahun 2026 ini butuh keseimbangan antara mimpi besar dan pijakan kaki yang kuat di bumi.

Visi Bukan Sekadar Slogan, Tapi Arah Jalan

Banyak RPJMDes yang visinya sangat puitis: “Mewujudkan Desa yang Sejahtera, Mandiri, dan Bermartabat.” Indah sekali, tapi apa maknanya secara teknis? Sejahtera itu ukurannya apa? Mandiri itu parameternya mana? Visi yang visioner adalah visi yang bisa diturunkan menjadi indikator keberhasilan yang jelas.

Tips pertama: Bedah visi Anda menjadi target yang terukur. Jika visinya adalah “Mandiri”, maka targetkan dalam enam tahun BUMDes harus menyumbang sekian persen bagi Pendapatan Asli Desa (PADes). Jika visinya “Sejahtera”, targetkan penurunan angka stunting atau pengentasan kemiskinan ekstrem di desa Anda secara bertahap. Visi yang tanpa ukuran itu namanya mimpi di siang bolong. Jangan takut membuat target yang tinggi, selama Anda tahu jalan setapak untuk mencapainya.

Musyawarah Dusun: Mendengar Suara dari Akar Rumput

Sering kali RPJMDes disusun hanya di atas meja kantor desa oleh “tim elit” yang terdiri dari Kepala Desa dan beberapa perangkat desa saja. Akibatnya, masyarakat di dusun-dusun merasa tidak memiliki dokumen tersebut. Program yang muncul sering kali hanya usulan dari mereka yang suaranya paling keras di rapat desa.

Strategi realistisnya: Perkuat Musyawarah Dusun (Musdus). Datangi warga di pos kamling, di balai dusun, atau bahkan di sawah. Dengarkan apa yang menjadi keresahan mereka. Mungkin mereka tidak butuh gerbang desa yang megah, tapi butuh perbaikan saluran irigasi yang selama ini bikin sawah mereka kering. RPJMDes yang realistis lahir dari pemetaan masalah yang jujur dari bawah. Jika warga merasa usulannya didengar, mereka akan dengan sukarela ikut bergotong-royong saat pembangunan dilaksanakan. Itulah esensi pembangunan partisipatif.

Sinkronisasi dengan Prioritas Nasional dan Daerah

Desa tidak hidup di ruang hampa. Ada aturan main dari Kementerian Desa dan Pemerintah Kabupaten yang harus diikuti. Sering terjadi, desa ingin membangun sesuatu yang ternyata dilarang dibiayai oleh Dana Desa tahun tersebut. Akhirnya, program di RPJMDes macet total karena masalah regulasi.

Cara praktisnya: Selaraskan RPJMDes Anda dengan SDGs Desa dan Prioritas Penggunaan Dana Desa terbaru. Lihat juga RPJMD Kabupaten. Jika Kabupaten sedang fokus pada pariwisata, coba selaraskan potensi desa Anda ke sana agar bisa mendapatkan bantuan keuangan atau dana hibah dari level atas. Menjadi visioner berarti mampu melihat peluang kolaborasi anggaran. Jangan hanya mengandalkan Dana Desa (DDS) dan Alokasi Dana Desa (ADD). RPJMDes yang cerdas adalah yang mampu membidik sumber pendanaan lain dari luar desa.

Pemetaan Potensi dan Masalah (Sketsa Desa)

Jangan menyusun program berdasarkan “tren” desa sebelah. Desa sebelah sukses dengan kolam renang, lalu Anda ikut-ikutan bangun kolam renang padahal desa Anda kesulitan air bersih. Itu namanya tragedi perencanaan.

Tekniknya adalah lakukan pemetaan aset dan potensi secara mendalam. Apa keunggulan kompetitif desa Anda? Apakah tanahnya subur? Apakah warganya banyak yang punya keahlian kerajinan tangan? Ataukah letaknya strategis di pinggir jalan raya? Fokuslah pada 1 atau 2 program unggulan yang benar-benar berangkat dari potensi lokal. Lebih baik punya satu program yang sukses luar biasa dan jadi ikon desa, daripada punya sepuluh program yang semuanya setengah jalan dan tidak memberikan dampak ekonomi.

Skala Prioritas: Memilah “Butuh” dan “Ingin”

Dokumen RPJMDes biasanya berisi ratusan usulan dari warga. Kalau semua dimasukkan, butuh anggaran seratus tahun untuk menyelesaikannya. Di sinilah kepemimpinan Kepala Desa diuji: berani menentukan skala prioritas.

Gunakan rumus “Dampak Terbesar bagi Orang Terbanyak”. Dahulukan program yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti air bersih, sanitasi, atau akses jalan pertanian. Program yang sifatnya seremonial atau hanya dinikmati segelintir orang harus diletakkan di urutan paling bawah. Sampaikan secara jujur kepada warga saat musyawarah: “Bapak-Ibu, tahun pertama kita fokus di sini dulu karena urgensinya begini.” Kejujuran dalam merencanakan akan membangun kepercayaan masyarakat.

Evaluasi Kemampuan Anggaran (Estimasi Pendapatan)

Ini adalah bagian paling “realistis” dari penyusunan RPJMDes. Anda harus menghitung proyeksi pendapatan desa selama enam tahun. Jangan hanya menghitung nilai flat, tapi hitung juga kemungkinan kenaikan atau penurunan dana transfer.

Pastikan program yang Anda susun masuk akal dengan uang yang tersedia. Jangan sampai di tahun ketiga anggaran habis hanya untuk membiayai satu proyek mercusuar yang ternyata biaya pemeliharaannya mahal sekali. RPJMDes yang bagus harus mencakup rencana pemeliharaan aset yang sudah dibangun. Membangun itu mudah, yang susah adalah memastikan apa yang dibangun tetap berfungsi sampai masa jabatan Anda berakhir.

Penutup

RPJMDes bukan sekadar dokumen administrasi untuk kelengkapan kantor kecamatan. Ia adalah janji Anda kepada sejarah desa. Kepala Desa yang hebat bukan diingat karena berapa banyak rapat yang dia pimpin, tapi karena perubahan nyata apa yang dirasakan warga setelah enam tahun dia menjabat.

Buatlah RPJMDes yang punya jiwa. Visioner untuk membawa desa melompat maju, tapi tetap realistis agar setiap langkah tidak berakhir dengan kekecewaan. Jika Anda berhasil menyusun rencana yang seimbang, maka Dana Desa tidak akan sekadar habis untuk semen dan batu, tapi akan berubah menjadi kemandirian dan kesejahteraan bagi seluruh warga desa. Selamat melukis masa depan desa Anda dengan tinta integritas dan warna kreativitas!