Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) adalah fondasi utama dalam penyusunan HPS dan RAB, terutama untuk pekerjaan konstruksi maupun pekerjaan jasa lainnya yang memiliki struktur biaya kompleks. AHSP berfungsi memecah harga satuan menjadi komponen-komponen yang bisa dijelaskan secara logis: tenaga kerja, bahan, peralatan, dan biaya pendukung. Tanpa AHSP yang benar, HPS hanya menjadi perkiraan kasar, dan RAB bisa menjadi tidak wajar. Inilah mengapa auditor sangat menaruh perhatian pada AHSP. Bagi mereka, AHSP adalah bukti apakah suatu harga satuan benar-benar dihitung dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan atau hanya “asal jadi”.

Sayangnya, meski sangat penting, banyak AHSP di lapangan yang tidak akurat. Sebagian besar disusun tanpa analisis mendalam, hanya menyalin dokumen lama, atau bahkan hanya menuliskan angka total tanpa memecah komponen biayanya. Tidak jarang AHSP dibuat dalam waktu singkat menjelang proses pengadaan, sehingga kualitasnya jauh dari standar. Pertanyaannya kemudian: bagaimana sebenarnya menyusun AHSP yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan?

Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bagaimana AHSP bekerja, apa yang harus dianalisis, apa kesalahan umum yang sering terjadi, dan bagaimana memastikan bahwa setiap komponen biaya dapat dibuktikan jika suatu saat diperiksa auditor.

Pentingnya AHSP dalam Pengadaan

AHSP bukan hanya untuk memenuhi administrasi. Ia adalah jantung dari analisis biaya. Tanpa AHSP yang benar, semua dokumen biaya di atasnya—HPS, RAB, bahkan nilai kontrak—akan mengalami masalah. AHSP memberi penjelasan logis: mengapa pekerjaan tertentu memiliki harga sekian, bagaimana harga satuan dihitung, dan apakah biaya tersebut sudah masuk akal menurut kondisi lapangan.

Lebih jauh lagi, AHSP memastikan konsistensi antara volume, jenis pekerjaan, dan metode pelaksanaan. Misalnya, pekerjaan pengecoran tidak hanya dinilai berdasarkan volume beton, tetapi juga pekerjaan bekisting, tenaga kerja, vibrator, alat, dan durasi kerja. Jika ada satu komponen yang tidak dihitung, harga bisa menjadi terlalu rendah atau terlalu tinggi, dan keduanya berpotensi menimbulkan masalah kontraktual.

Instansi yang memiliki AHSP kuat biasanya mampu menyusun HPS yang akurat dan mudah dibuktikan. Penyedia pun akan melihat HPS yang rinci sebagai tanda bahwa proyek dikelola dengan profesional. Sebaliknya, AHSP yang disusun asal-asalan akan menghasilkan harga satuan yang “asal ada”, yang pada akhirnya menyulitkan seluruh proses pengadaan.

Tantangan yang Sering Dihadapi Saat Menyusun AHSP

Sebelum membahas cara menyusun AHSP yang baik, kita perlu memahami mengapa banyak AHSP tidak akurat. Banyak tantangan yang dihadapi penyusun, baik teknis maupun nonteknis. Pertama, tidak semua instansi memiliki SDM teknis yang memahami metode perhitungan AHSP. Banyak staf teknis belajar secara otodidak, menyalin dari proyek sebelumnya, atau mengambil referensi yang tidak sesuai standar.

Kedua, akses terhadap data tenaga kerja, material, dan alat tidak selalu mudah. Harga material sering berubah, upah pekerja berbeda antarwilayah, biaya alat tergantung ketersediaan, dan semua harus diperhitungkan dengan teliti. Ketiga, waktu penyusunan sering sangat terbatas. Unit teknis kadang diminta menyelesaikan dokumen teknis dalam waktu beberapa hari. Dengan waktu sesingkat itu, sulit melakukan survei harga mendalam.

Keempat, standar atau referensi resmi tidak selalu digunakan. Padahal ada banyak referensi harga seperti SNI, AHSP Kementerian PUPR, dan standar instansi lain yang bisa dijadikan acuan. Namun tanpa pemahaman yang cukup, penyusun memilih jalan cepat yang berisiko membuat AHSP tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Memahami Struktur Dasar AHSP

Untuk menyusun AHSP yang kredibel, penyusun harus memahami struktur dasar AHSP. Sebuah AHSP terdiri dari tiga komponen utama: tenaga kerja, bahan, dan peralatan. Masing-masing komponen memiliki perhitungan dan satuan yang harus dipahami.

Komponen tenaga kerja mencakup jenis pekerja yang terlibat dan produktivitas mereka. Misalnya tukang batu memiliki kemampuan memasang sejumlah bata per hari. Jika tenaga kerja dihitung tanpa memperhatikan produktivitas, maka durasi dan biaya tenaga kerja menjadi tidak akurat.

Komponen bahan mencakup volume per satuan pekerjaan. Misalnya, pekerjaan plesteran membutuhkan semen, pasir, dan air dalam jumlah tertentu. Jika bahan tidak dihitung berdasarkan kebutuhan riil, maka harga satuan tidak mencerminkan kondisi lapangan.

Komponen peralatan mencakup biaya penggunaan alat per jam atau per siklus. Alat merupakan salah satu biaya terbesar dalam pekerjaan konstruksi. Banyak AHSP tidak memasukkan biaya alat, padahal alat sangat menentukan seperti pada pekerjaan pemadatan, pekerjaan tanah, dan lain-lain.

Selain itu, ada biaya pendukung lain seperti mobilisasi, demobilisasi, biaya keselamatan kerja, dan biaya umum lainnya. Namun komponen-komponen ini hanya boleh dimasukkan jika memang relevan dan tidak tumpang tindih dengan biaya lainnya.

Kunci Menyusun AHSP yang Akurat

Untuk menyusun AHSP yang akurat, beberapa prinsip harus dipenuhi. Pertama, seluruh harga harus bersumber dari data terkini. Penyusun AHSP tidak boleh menggunakan harga lama tanpa menyesuaikan inflasi atau kondisi pasar. Survei harga harus dilakukan di lokasi pekerjaan atau setidaknya di wilayah yang sebanding.

Kedua, produktivitas tenaga kerja harus realistis. Tidak boleh mengambil produktivitas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Produktivitas harus merujuk standar teknis, pengalaman lapangan, atau referensi resmi seperti standar kementerian.

Ketiga, volume bahan harus dihitung berdasarkan gambar kerja atau metode pelaksanaan. Kesalahan dalam menghitung volume akan berdampak langsung pada biaya total. Volume bahan tidak boleh dihitung secara kasar atau hanya berdasarkan perkiraan.

Keempat, biaya alat harus dihitung secara wajar berdasarkan tarif sewa atau biaya kepemilikan alat. Banyak penyusun AHSP mengabaikan biaya alat karena dianggap rumit, padahal alat sering menjadi komponen terbesar.

Kelima, AHSP harus mengikuti struktur yang jelas dan konsisten. Setiap komponen biaya harus dijelaskan sehingga ketika auditor memeriksa, semua dapat dibuktikan.

Menentukan Produktivitas Tenaga Kerja dengan Benar

Salah satu aspek paling kritis dalam AHSP adalah produktivitas tenaga kerja. Banyak AHSP salah karena produktivitas pekerja tidak dihitung dengan benar. Misalnya, pekerjaan pemasangan bata dihitung dengan produktivitas sangat tinggi sehingga biaya tenaga kerja menjadi terlalu rendah. Atau sebaliknya, produktivitas terlalu rendah sehingga biaya tenaga kerja membengkak.

Untuk menentukan produktivitas tenaga kerja, penyusun harus memperhatikan kondisi lapangan. Pekerjaan di area sulit tentu memiliki produktivitas lebih rendah daripada area terbuka. Cuaca, akses lokasi, kebutuhan peralatan, dan tingkat keahlian pekerja sangat mempengaruhi produktivitas.

Selain itu, penyusun harus merujuk standar yang ada seperti AHSP PUPR. AHSP PUPR telah menetapkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan berdasarkan penelitian dan pengalaman. Menggunakan referensi resmi seperti ini akan memperkuat kredibilitas AHSP.

Menghitung Kebutuhan Bahan dengan Cermat

Bahan adalah komponen yang paling mudah terlihat, tetapi paling sering salah dihitung. Banyak AHSP hanya mengandalkan angka perkiraan. Penyusun harus mengacu pada gambar kerja dan metode pelaksanaan untuk menghitung kebutuhan bahan secara presisi.

Untuk bahan bangunan seperti semen, pasir, besi, dan cat, penyusun harus memahami koefisien bahan. Misalnya, pekerjaan plester membutuhkan 0,02 m³ pasir per m² dinding. Jika koefisien ini salah, seluruh harga satuan menjadi tidak akurat.

Selain itu, penyusun perlu memperhitungkan waste factor (faktor susut) yang wajar. Tidak semua bahan bisa digunakan 100%. Ada bahan yang rusak, hilang, atau terbuang dalam proses pekerjaan. Namun waste factor harus wajar dan tidak boleh berlebihan.

Harga bahan harus mengikuti harga pasar di lokasi pekerjaan. Jika pekerjaan berada di daerah terpencil, biaya pengiriman perlu diperhitungkan.

Menghitung Biaya Peralatan Secara Realistis

Peralatan adalah komponen yang sering diabaikan dalam AHSP. Padahal alat sangat menentukan biaya pekerjaan, terutama pekerjaan tanah, pemadatan, pemotongan, atau pengangkutan. Penyusun AHSP harus memahami cara menghitung biaya alat berdasarkan tarif sewa atau biaya kepemilikan alat.

Biaya alat dihitung berdasarkan biaya per jam atau per siklus. Durasi penggunaan alat ditentukan berdasarkan produktivitas alat dan volume pekerjaan. Misalnya, alat berat seperti excavator memiliki produktivitas tertentu per jam. Jika volume pekerjaan besar, durasi penggunaan alat akan meningkat dan biaya alat menjadi signifikan.

Sering kali, instansi menggunakan tarif sewa alat dari penyedia alat lokal. Penyusun AHSP harus melakukan survei tarif sewa yang kredibel. Selain itu, biaya pengoperasian alat seperti bahan bakar dan operator harus diperhitungkan.

Menyusun Metode Pelaksanaan yang Jelas

AHSP tidak dapat berdiri sendiri tanpa metode pelaksanaan. Metode pelaksanaan memberikan gambaran bagaimana pekerjaan dilakukan. Dengan metode yang jelas, penyusun dapat menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan, dan alat secara akurat.

Misalnya, pekerjaan pengecoran membutuhkan tahapan pembentukan bekisting, pemasangan tulangan, dan pengecoran. Jika metode pelaksanaan tidak jelas, penyusun mungkin melewatkan komponen biaya tertentu seperti bekisting atau alat vibrator.

Metode pelaksanaan harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pekerjaan di lokasi sempit atau di area padat penduduk membutuhkan metode pelaksanaan yang berbeda dari pekerjaan di area terbuka.

Menggunakan Referensi Resmi untuk Memperkuat Validitas AHSP

Salah satu cara memastikan AHSP dapat dipertanggungjawabkan adalah dengan menggunakan referensi resmi. AHSP PUPR adalah referensi paling sering digunakan karena mencakup banyak jenis pekerjaan konstruksi. Selain itu, instansi dapat menggunakan SNI atau standar kementerian lain.

Menggunakan referensi resmi memiliki beberapa keuntungan. Pertama, auditor akan mudah menerima AHSP jika mengikuti referensi yang sudah diakui. Kedua, produktivitas dan koefisien bahan dalam standar sudah terbukti berdasarkan penelitian. Ketiga, penyusun tidak perlu menebak-nebak nilai produktivitas atau koefisien.

Namun referensi resmi juga harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Penyusun tidak boleh menyalin begitu saja tanpa mempertimbangkan konteks pekerjaan.

Proses Review AHSP Sebelum Difinalisasi

Setelah AHSP disusun, proses review harus dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan. Review dilakukan oleh unit teknis, unit perencanaan, dan unit pengadaan jika diperlukan. Banyak instansi melewatkan review ini sehingga AHSP sering memiliki kesalahan yang baru ketahuan ketika proses pengadaan sudah mulai.

Review harus mencakup pengecekan koefisien tenaga kerja, volume bahan, biaya alat, dan sumber harga. Selain itu, review memastikan bahwa AHSP konsisten dengan gambar kerja, spesifikasi teknis, dan BOQ.

Jika ada ketidaksesuaian antara AHSP dan dokumen teknis lainnya, penyusun harus memperbaikinya sebelum HPS dan RAB dibuat. Review adalah tahapan penting untuk memastikan AHSP benar-benar akurat.

Penutup

Penyusunan AHSP yang akurat bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga fondasi dari pengadaan yang berkualitas. AHSP yang kuat akan menghasilkan HPS dan RAB yang wajar, proses tender yang lancar, kontrak yang realistis, dan pekerjaan yang sesuai harapan. Sebaliknya, AHSP yang lemah akan berakibat pada HPS tidak wajar, tender gagal, variasi pekerjaan berlebihan, dan bahkan temuan audit.

Dengan memahami cara menyusun AHSP secara benar, menyusun berdasarkan data, dan mengikuti standar resmi, instansi dapat meningkatkan profesionalitas dalam pengelolaan anggaran dan pelaksanaan pekerjaan. AHSP yang akurat adalah bukti bahwa pengadaan dikelola secara transparan, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.